Tugas Terstruktur
BAB IPENDAHULUANA. TUJUANMengetahui tentang usaha mikro yang ada di lingkungan sekitar B. LATAR BELAKANGUsaha Mikro yaitu usaha produktif milik keluarga atau perorangan Warga NegaraIndonesia dan memiliki hasil penjualan paling banyak Rp.100.000.000,00 (seratus jutarupiah) per tahun. Usaha Mikro dapat mengajukan kredit kepada bank paling banyak Rp.50.000.000,-. Ciri-ciri usaha mikro yaitu:
•
Jenis barang/komoditi usahanya tidak selalu tetap, sewaktu-waktu dapat berganti;
•
Tempat usahanya tidak selalu menetap, sewaktu-waktu dapat pindah tempat;
•
Belum melakukan administrasi keuangan yang sederhana sekalipun, dan tidak memisahkan keuangan keluarga dengan keuangan usaha;
•
Sumber daya manusianya (pengusahanya) belum memiliki jiwa wirausaha yangmemadai;
•
Tingkat pendidikan rata-rata relatif sangat rendah;
•
Umumnya belum akses kepada perbankan, namun sebagian dari mereka sudah akses kelembaga keuangan non bank;
•
Umumnya tidak memiliki izin usaha atau persyaratan legalitas lainnya termasuk NPWP.Contoh usaha mikro
•
Usaha tani pemilik dan penggarap perorangan, peternak, nelayan dan pembudidaya;
•
Industri makanan dan minuman, industri meubelair pengolahan kayu dan rotan,industripandai besi pembuat alat-alat;
•
Usaha perdagangan seperti kaki lima serta pedagang di pasar dll.;
•
Peternakan ayam, itik dan perikanan;
•
Usaha jasa-jasa seperti perbengkelan, salon kecantikan, ojek dan penjahit (konveksi).BAB IIISIUsaha mikro yang akan kami bahas disini yaitu pedagang mie ayam yang biasa berjualandi perumahan Griya Limas Permai, Purwokerto. Pedagang setengah baya yang kami wawancarabernama bapak Natim, kelahiran Januari 1947. Namun, ketika ditanya kapan tanggalo lahirnya,bapak ini lupa tanggal pastinya. Mungkin karena sudah terlalu lama dan belum adanya aktekelahiran pada saat itu. Bapak kelahiran purwokerto ini mempunyai seorang istri dengan limaorang anak, sepuluh orang cucu dan seorang cicit. Bapak yang bertempat tinggal diarcawinangun dari lahir sampai sekarang. Begitu cintanya dengan tanah kelahirannya membuatPak Natim betah tinggal di sana. Bapak lima orang anak ini dulu sempat menjadi buruh di pabrik soun. Setelah berhenti dari tempat kerjanya, pedagang mie ayam ini mencoba peruntungandengan mengumpulkan dan menjual barang rongsok untuk menyambung hidup keluarganya.Pada tahun 1998 bapak Natim mencoba mengubah nasibnya menjadi lebih baik denganmemulai berjualan mie ayam. Untuk memulai usaha ini, bapak Natim mendapatkan modal usaha
berupa gerobak mie ayam dari kerabatnya. Sedangkan untuk bahan-bahan lainnya sepertimangkok, dandang, botol, sendok, garpu, bapak Natim tidak ingat persis berapa modal yang iabutuhkan, tetapi untuk modal setiap harinya ia membeli mie, ayam, sawi hijau, minyak, bumbu-bumbu yang dipakai sekitar seratus ribu rupiah.Setiap harinya bapak Natim mulai berjualan dari pukul 12.00 siang hingga dagangannyahabis terjual. Biasanya ia tiba dirumah sebelum magrib seusai berjualan. Ia menjajakandagangannya dari mulai arcawinangun hingga tujuan akhirnya yaitu di griya limas permai.Perumahan Griya Limas Permai mejadi salah satu tujuan usaha karena di perumahan tersebutbanyak mahasiswa in de kost yang akan menjadi target jualannya dengan harapan dapatmenghabiskan semua mie ayam dagangannya. Namun, beberapa tahun terakhir ini keuntunganyang didapat dari berjualan mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan sudah banyaknyapenghuni kost yang berganti dari tahun ke tahun. Dimungkinkan karena perbedaan kebiasaanjajan mahasiswa sekarang yang lebih memilih makanan mengenyangkan.Walaupun berkurangnya konsumen saat ini, pak Natim tidak pernah berputus asa untuk terus berjualan. Keuntungan yang menyusut tidak menggetarkan semangat pak Natim. Sudahcukup baginya dengan bisa mendapatkan hasil untuk makan dan hidup keluarga.Harapan bapak Natim untuk usahanya ke depan tidaklah muluk-muluk. Hanya denganlakunya dagangan yang dijual sudah membuatnya merasa bahagia. Bapak Natim hanya berharaptidak selamanya bekerja. Beliau hanya ingin bisa beristirahat dan menikmati masa tuanyabersama keluarga bahagianya.


